Joni Si Pembuat Cerita Heroik di Perbatasan

www.detiksaga : Atambua : Tujuh Belas Agustus lalu, Yohanes Gama Marchal Lau mengawali rutinitasnya dengan bangun pagi, bersiap menjual roti bakar  yang dibuat ibunya. Ia berjualan membantu pendapatan keluarganya yang tinggal di Desa Silawan.

Usai berjualan kue, anak yang akrab disapa Joni itu langsung bersiap diri untuk mengikuti upacara bendera memperingati Proklamasi Kemerdekaan ke-73  yang berlangsung di Dusun Mota’ain, Desa Silawan, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu. Desa ini berbatasan langsung dengan Republik Demokratik Timor Leste.

Ia berjalan menuju lapangan upacara yang berjarak sekitar 300 meter dari rumahnya. Waktu menunjukkan 08.45 WITA, orang sudah mulai ramai memenuhi lapangan. Joni pun langsung menuju barisan SMP Negeri Silawan sembari menunggu dimulainya upacara. Panasnya terik matahari membuat Joni tak kuasa menahan pening di kepala. Bocah yang lahir 10 Oktober 2004 silam ini tak kuat lagi dan terpaksa pergi ke tenda kesehatan, dan beristirahat.

Ketika detik-detik pengibaran bendera dimulai, saat peserta upacara sudah memberikan penghormatan pada Sang Saka Merah Putih, tiba-tiba tali bendera terlepas dan terkerek ke ujung tiang. Peserta upacara tetap menyanyikan Indonesia Raya, tak satu orang pun yang keluar dari barisan. Hingga bait terakhir lagu kebangsaan dilantunkan, bendera belum saja naik.

Saat itu, Wakil Bupati Belu J.T Ose Luan, Pembina Upacara pagi itu meminta bendera tetap dinaikan, apapun caranya. Sekitar 15 menit suasana mulai panik karena upacara belum dilanjutkan. Tiba-tiba ada seorang perawat menuju tenda kesehatan, dengan kening berkerut bertanya pada anak-anak yang sedang beristirahat di dalam tenda. “Siapa yang bisa panjat pinang?” kata Joni mengulang pertanyaan si perawat kepada Independen, Jumat (17/8) lalu. Joni yang terbaring, spontan berdiri dan mengatakan, “Saya siap, Bu.”

Baca juga :Si Bisu Pemulung Kardus Kini Berhaji

Ia pun berdiri berdiri dan berjalan menuju ke tiang bendera yang tingginya sekitar 12 meter tanpa alas kaki. Tanpa ragu, anak dari pasangan Viktorino Fahik Marshal dan Lorenza Kai Ili itu pun mulai memanjat tiang bendera tersebut. ia sempat berhenti sejenak ketika berada di tengah tiang sekedar mengambil napas. Setelah itu dia kembali memanjat tiang tersebut.

Ketika berada pada ketinggian sekitar 10 meter, tiang mulai goyang dan miring. Spontan Wakil Bupati berteriak menyuruh Joni untuk segera turun. Namun teriakan lewat pengeras suara itu tak dihiraukan Joni. Ia tetap memanjat tiang tersebut.

Beberapa anggota TNI berlari menuju ke tiang bendera untuk memegang tiang bendera tersebut agar tidak terlalu goyang. Para peserta upacara yang hadir pun terus memberi semangat pada Joni untuk tetap memanjat tiang sampai ke ujung.

Baca :Mengurai Akar Persoalan Perkawinan Anak

Ketika berada di ujung tiang, semua orang yang berada di lapangan langsung bertempik sorak. Joni berhasil mengambi tali yang tersangkut di ujung tiang bendera, menarik kembali ke bawah sembari menjaga keseimbangan tubuh ketika turun. Ketika kakinya berhasil mencapai tanah kembali, ia  kemudian menyerahkan ujung tali itu kepada seorang berseragam tentara.

Joni pun langsung disambut hangat dan dibawa ke mimbar Pembina Upacara. Dengan malu-malu, Joni berdiri di samping sang Wakil Gubernur, dengan bertelanjang kaki. Ia pun memberikan hormat saat Merah Putih kembali dinaikkan.

“Tidak mudah dan tidak gampang kita memperoleh kemerdekaan ini dan seorang anak kecil dengan sikap hebatnya memanjat tiang ini dan kemudian dapat mengatasi masalah, sehingga kita yang tadi bingung tersenyum kembali,” ujar Ose Luan sembari merangkul Joni saat memberikan amanat upacara.

Mantan Sekda Belu itu mengemukakan kejadian lepasnya tali pengait bendera adalah insiden yang tidak direncanakan. “Ini pahlawan kecil penyelamat kita pagi ini. Seorang anak pelajar yang menjadi penyelamat dalam upacara kemerdekaan. Terima kasih pahlawan kecil, kejadian ini menggugah saya, kau adalah pahlawan dan ini pembelajaran untuk kita semua,” katanya.

Maria salah satu tetangga Joni menceritakan Joni adalah anak yang rajin membantu orang tuanya. Setiap pagi dia selalu berjualan roti keliling. Saat pulang sekolah, anak bungsu dari sembilan bersaudara itu juga selalu memanjat pohon asam, mengambil buahnya untuk dijual. Uangnya diberikan kepada ibu untuk membantu biaya pengobatan ayahnya yang mengidap penyakit gangguan pernapasan sejak tiga tahun lalu. “Dia anak yang rajin membantu orang tua. Dia juga anak yang berprestasi di sekolahnya. Hari ini dia menjadi pahlawan bagi kami,” tutur Maria.

Sumber : Independen id

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Detiksaga News