Tradisi Idul Fitri, Kota Sintang Dihujani Tembakkan Seratus Meriam Karbit

www.detiksaga.com,  Sintang: Tak kurang dari seratus unit Meriam Karbit akan menghujani kota Sintang pada malam Idul Fitri 1444 Hijriyah pada  Festival Meriam Karbit kembali digelar panitia Hirrah Ramadhan 1444H Masjid Jami’ Sultan Nata dan Pemuda Pulau Perigi Tanah Senentang.

Ketua penyelenggara Ade Muhammad Iswadi mengatakan, Setelah terhenti karena pandemi covid-19 sekitar 3 tahun (2020-2022), Festival Meriam Karbit kembali digelar panitia Hirrah Ramadhan 1444H Masjid Jami’ Sultan Nata dan Pemuda Pulau Perigi Tanah Senentang.

“Festival Meriam Karbit Tahun 2023/144H ini memperebukan Piala Bergilir Bupati Sintang,” katanya, kamis (20/4/2022).

Dia juga menjelaskan Hirrah Ramadhan yang pernah diadakan sebetulnya terdapat beberapa even, yang terdiri dari dua jenis yaitu berkenaan dengan ibadah dan tradisi. Secara garis besar yang pernah dilaksanakan dalam kurun waktu 2016-2019, yang bersifat ibadah terdiri dari Baca Ayat Pendek, Melantunkan Adzan, Cerdas Cermat, Lomba Membaca Doa, sedangkan yang tradisi yaitu pawai obor menyambut Ramadhan, Ngeleman, Tabuh Bedug, Festival Bedel Buloh, Panahan, dan Festival Meriam Karbit.

“Untuk tahun 2023 ini panitia mempertimbangkan dua kegiatan tradisi yaitu Bedel Buloh dan Meriam Karbit yang juga terkait sejarah dan herosime pada jaman Kerajaan Sintang,” kata penyandang gelar kekerabatan Pangeran Muda Wiraguna Suryanata ini.

Ami Panggilan Akrab Ade Muhammad Iswadi, juga menjelaskan beberapa tradisi yang sudah lama sekali terkait dengan apa yang selalu dilakukan oleh masyarakat Sintang bahkan sejak jaman Kerajaan Sintang masih eksis/masa pemerintahan kerajaan Sintang, yaitu  Pawai Obor, Ngeleman, festival Bedug, Bedel Buloh, dan Meriam.

Adapun sejarah Obor dan Ngeleman merupakan tradisi dimana pada saat belum mengenal listrik, masyarakat Sintang menerangi lingkungan dengan menggunakan obor dan menuju rumah ibadah membawa Obor.

“Obor ada yang disusun sepanjang jalan menuju rumah ibadah atau rumah masing-masing tak jarang dibentuk menyerupai berbagai bentuk kapal, kubah masjid, bintang bulan, dan lain sebagainya,” kata dia.

Kemudian, lanjut Ami, tradisi bedug merupakan tradisi yang sampai kini masih dilaksanakan, terutama pada saat sholat Jumat ada petugas yang masih menabuh bedug sebelum muazin melantun adzan tanpa akan segera dimulainya waktu sholat Jumat.

“Kalau dulu hampir semua waktu sholat bedug ditabuh hingga terdengar dikejauhan, bahkan oleh petugas tertentu saat dipukul suaranya bahkan terdengar hingga ke hampir seluruh wilayah Kerajaan Sintang pada saat itu.”

Ami juga memaparkan terkait Bedel Buloh (Bedil Bambu), tradisi penggunaan bedel buloh ini menjadi cerita turun temurun di beberapa keluarga Kerajaan Sintang. Dimana pada masa perlawanan Pangeran Kuning dengan pusat gerilya pertamanya di sekitatar Teluk Menyurai (Korem 121/AWB sekarang), kaum hawa atau ibu-ibu pada saat itu, termasuk Ratu Kuning /istri Pangeran Kuning bernama Mas Srigading, yang memanfaatkan Bambu disekitar untuk dijadikan bedel buloh guna  membantu perjuangan Pangeran Kuning dan pengikutnya dalam gerilya melawan penjajahan Belanda.

“Pada saat Pangeran Kuning dan Pengikutnya hendak bergerak, kaum Hawa menembakkan bedel buloh untuk mengelabui Belanda agar mengira posisi Pangeran Kuning ditempat suara itu berasal, padahal disisi lain Pangeran Kuning dan Pengikutnya bergerilya untuk menyerang ke pusat kedudukan Belanda, terutama di Tanah Tanjung (Bekang saat in),” bebernya.

Ia juga  menjelaskan permainan panahan juga salah satu tradisi masyarakat Sintang sejak lama, apalagi pengaruh Turki Ottoman selain ditunjukkan dengan adanya lambang bulan dan bintang di Kubah Masjid Jami’ juga mempengaruhi situasi di Kerajaan Sintang pada masa lampau.

Sedangkan penembakkan meriam pada masa Kerajaan Sintang selalu ditembak di depan Istana sebagai tanda memasuki Bulan Suci Ramadhan dan itu menjadi tanda kepastian bagi seluruh masyarakat Sintang untuk menjalankan Tarawih dan akan memulai Ibadah Puasa pada hari pertama.

“Meriam yang ditembakkan, menurut para orangtua dulu adalah Meriam Segentar Alam yang suaranya dikabarkan terdengar hingga ke hampir seluruh wilayah Sintang,” beber Ami.

Sampai saat ini ada 13 kelompok yang mendatar sebagai peserta Festival Meriam Karbit tahun 2023, dan tidak sedikit juga kelompok yang tidak mendaftar namun tetap bermain sebagai tradisi dilakukan sehingga jumlahnya mencapai 100-an meriam karbit dan 74 diantaranya terdaftar di panitia. (*)

 

Komentar

Detiksaga News