Pencemaran Sungai Kapuas, PETI Perlu Solusi Ekonomi

www.detiksaga.com, Sintang: Maraknya aktivifitas penambangan emas tanpa izin (PETI), baik di sepanjang aliran sungai maupun di daerah daratan di Wilayah Kalbar.disinyalir menjadi salah Satu penyebab tercemarnya perairan sungai Kapuas dan Melawi di Kalimantan Barat.

Dari penelitian Fakultas MIPA Universitas Tanjungpura Pontianak di hulu Sungai Kapuas, di Kabupaten Sintang dan Sekadau, secara kimiawi dan biologis sudah tercemar.

Dekan Fakultas MIPA Untan Thamrin Usman mengungkapkan, hasil penelitian di Sekadau menemukan kandungan merkuri (Hg) mencapai 0,2 ppb (parts per billion) dua kali lipat di atas ambang batas normal. Penelitian di Kabupaten Sintang menemukan kandungan Hg hingga 0,4 ppb.

Dia yakin, pencemaran pasti berdampak ke hilir. Temuan ini melengkapi penelitian beberapa tahun sebelumnya, saat ditemukan kandungan Hg yang melebihi ambang batas di bagian hilir Sungai Kapuas.

Merkuri merupakan bahan kimia yang biasa digunakan untuk memurnikan butiran emas pada penambangan emas tanpa izin. Merkuri yang masuk ke tubuh manusia bisa mengganggu sistem saraf dan sistem enzym yang berguna bagi metabolisme tubuh.

Pihaknya juga menemukan adanya biota Benthos jenis Chironomous. Jenis ini hanya dapat hidup di daerah tercemar. Di sana juga dijumpai plankton yang hanya hidup di air tercemar.

Kepala Seksi pengendalian kerusakan dan pemulihan lingkungan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sintang, Yudha Prawiyanto mengatakan pihaknya melakukan pemantauan kondisi air sungai 6 bulan sekali yaitu saat musim kemarau dan musim penghujan.

“ Berdasarkan hasil Pantauan bukan hanya sungai Kapuas namun Sungai Melawi sudah sangat tercemar dan tidak  dapat di jadikan sumber air minum, namun masih dapat untuk MCK,” Katanya.

Kondisi lumpur dan zat merkuri di temukan karena adanya aktifitas pertambangan di Sungai Kapuas dan Melawi, selain itu juga ditemukan zat kimia seperti urea dari perkebunan.

Aktivitas PETI di Wilayah Kalbar sangat marak terjadi dan sudah berlangsung sejak puluhan tahun yang lalu. Aktivitas PETI ini dilakukan oleh masyarakat, baik di wilayah aliran Sungai Kapuas maupun di wilayah daratan Kalbar.

Para penambang melakukan pemisahan emas dengan kotoran yaitu dengan melakukan pemanasan dengan menggunakan merkuri.Pada saat melakukan pemanasan kotoran itu terpisah dari emas dan emas menjadi menggumpal menjadi satu.

“Untuk itu pemanasan di atas permukaan air diharapkan tidak dilakukan oleh para penambang,” tambahnya

Selain itu, saat terjadi pemanasan, merkuri terbang ke atas dan merkuri dibawa oleh awan dan tersebar. Saat terbang dibawa awan, hujan turun dan jatuh ke sungai. Saat itulah terjadi pencemaran air sungai yang sangat berdampak terhadap kesehatan masyarakat sebab air sungai dan air hujan dikomsumsi oleh masyarakat Kalbar

Selain Sungai Kapuas dan Melawi kondisi danau juga perlu perhatian serius, Ketua lembaga Sintang Fresh Watter Care  (SFWC)  Rayendra menyatakan saat ini Sintang menghadapi krisis lingkungan yang cukup parah mengingat  sejumlah danau di Sintang saat ini kondisinya mengalami penurunan kwalitas.

Ia pun membentuk  kelompok masyarakat di sekitar danau di Sintang untuk melindungi sumber- sumber air tersebut dari kegiatan ilegal baik ilegal fishing, ilegal maining maupun deforestasi.

Ia menginisiasi lebih dari 10 danau di Sintang untuk di lindungi dengan membentuk lembaga perlindungan danau.

Bukan hanya di Sintang, secara umum di Indonesia menurut Rayendra  masih menghadapi masalah besar  menurunya kwalitas lingkungan dari sabang sampai maurauke, sehingga ia berinisiatif membentuk kelompok masyarakat pencinta lingkungan

Dengan menumbuhkan kesadaran secara kolektif ia yakin kawasan kawasan danau di Sintang masih dapat diselamatkan dari kerusakan yang terus terjadi sepanjang tahun.

Saat ini insiatif menjaga lingkungan terus ditularkan pada berbagai instansi dengan melakukan kolaborasi dengan pemerintah salah satunya mengembalikan fungsi beradaban sungai kapuas melalui keterlibatan prajurit TNI.

Bupati Sintang Jarot Winarno mengapresiasi langkah baik ini untuk memberi contoh masyarakat menjaga lingkungan dari pencemaran di Sungai baik sampah maupun aktivitas Ilegal lainya.

“ Dandim menjadi contoh terbaik dengan pembuatan keramba sehingga hal ini dapat mengurangi aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Ijin (PETI) di sungai karena PETI sangat besar pengaruh negatifnya terutama di sungai. Dengan program ini diharapkan akan dapat meningkatkan konsumsi ikan dan juga melestarikan lingkungan,Semoga dapat menjadi contoh dimasyarakat, sehingga budidaya ikan sebagai mata pencarian dapat dikembalikan, “, ucapnya.

Komandan Kodim 1205 Sintang Letkol Inf Eko Bintara Saktiawan menginisiasi pembangunan Keramba di Sungai Kapuas untuk alasan mengurangi aktifitas PETI dan mengembalikan fungsi sungai serta berdampak ekonomi  bagi masyarakat.

“ Ini salah satu cara memberikan penghasilan dan memiliki nilai ekonomi, mamang masih bila dikomparasikan dengan hasil pertambangan emas memang belum berimbang namun bila dilakukan secara konsisten dalam beberapa tahun kedepan,” kata Dandim. (fik)

Komentar

Detiksaga News