Covid-19 Berimbas Negatif Pada Ekspor Arwana

www.detiksaga.com, KAPUAS HULU: Puluhan tahun sudah Budidaya Ikan arwana di Kapuas hulu Kalimantan barat digeluti masyarakat setempat, bahkan kini Arwana menjadi maskot Kapuas hulu. Ikan arwana  sudah membantu kehidupan perekonomian masyarakat, apalagi ditengah kondisi pandemi Covid-19 saat ini.

Di desa Bunut hulu  kecamatan Bunut Hilir kabupaten Kapuas hulu misalnya lebih dari 90 persen masyarakatnya terlibat dalam kegiatan jual beli ikan arwana, 30 persen diantaranya memiliki kolam penangkaran ikan.

Kepala Desa Bunut Hulu Wim Ibrahim mengatakan dirinya menggeluti usaha penangkaran ikan arwana sejak tahun 2012 namun banyak warganya lebih dahulu melakukan usaha ini, sejak awal usaha ini cukup menjanjikan kendati memerlukan modal yang tidak sedikit.

“ Investasi yang cukup besar  saat pembuatan kolam, sedangkan untuk bibit indukan bias dibeli dicicil sedikit-sedikit,’ katanya.

Usaha ikan Arwana ini sudah berdampak pada  perekonomian masyarakat, harga jual arwana pun cendrung terus naik dari tahun ketahun.

“Anakan Arwana Super Red dengan ukuran 2-hingga 2,5 cm dibandrol  Rp2 juta-Rp2,5 juta per ekor, “ ujarnya.

Kendati demikian Tata Niaga ikan Arwana ini masih perlu dibenahi, sebab saat ini harga ikan Arwana yang terus naik cendrung hanya dinikmati para pengepul yang memilki izin ekspor saja sementara masyarakat petani tidak terlalu berdampak.

“Penjualan hanya dijual ke Pontianak, dan sebagian dijual ditingkat local, masyarakat sini belum memilki izin ekspor semua yang memiliki izin ekspor berada di luar Kapuas hulu,” tambahnya.

Dukungan pemerintah kabupaten Kapuas hulu cukup baik dalam memudahkan masyarakat mendapatkan izin penangkaran.

Harga ikan arwana ini cukup bervariasi disesuaikan dengan kualitas dan spesifikasinya, semakin bagus kualitas ikan maka semakin tinggi harga jualnya.

“ Untuk jenis ikan arwana kontes harganya bisa mencapai ratusan juta  hingga milyaran rupiah,” katanya.

Saparudin warga setempat mengungkapkan harga arwana memang tinggi , namun harga jual beli ikan ini  tidak memiliki standar harga pasti, apalagi Covid-19 ternyata juga berpengaruh pada petani ikan arwana.

“Covid ini menyebabkan ekspor berkurang, memang permintaan luar negeri cukup besar, tapi kami tidak tahu permasalahanya dimana, orang di Pontianak lebih tahu karena mereka punya izin” kata Saparudin.

Harga arwana sangat anjlok dipasaran dikarenakan dampak dari ekonomi dunia yang saat ini sedang sulit akibat dari pandemi Covid-19.

Arwana masih banyak yang mengendap ditempat pembeli pembeli besar yang ada di Pontianak, Jakarta dan diluar negeri, akibatnya ikan ikan yang ada ditingkat petani tidak bisa dibeli.

Kendati harganya sedang anjlok warga meyakini keberadaan ikan arwana  dampak positif  bagi perekonomian keluarganya selama ini, saparudin, berharap Pemda Kapuas Hulu terus meningkatkan perhatian  melalui pembinaan kepada petani agar pengetahuan masyarakat terhadap budidaya arwana ini terus meningkat. (fik).

Komentar

Detiksaga News