Dunia Pendidikan di Indonesia Masih Mengalami Masalah Besar

www.detiksaga.com, Sintang:

Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Sintang Edy Sunaryo menyatakan komitment pemerintah dalam dunia pendidikan memang dinilai belum serius, sebab alokasi 20 persen anggaran dunia pendidikan pun saat ini belum terealisasi sehingga sangat wajar ada sekolah SMA di perbatasan  yang hanya menggunakan tenda atau gubuk.

“ Bukan hanya infrastruktur tenaga pengajarpun sangat minim, bahkan ada satu sekolah yang hanya ada dua guru saja bagaimana mungkin kondisi seperti ini dapat bersaing dengan sekolah- sekolah di jawa,” Kata Edy, Selasa (28/01/2020)

Penghapusan ujian Nasional dinilai Edy Sunaryo cukup adil ditengah belum meratanya dunia pendidikan di Indonesia sehingga tidak semua provinsi disama ratakan dalam standarisasi kelulusan .

Pemerintah diharapkan tidak mengabaikan masalah pendidikan sebab efek dari lemahnya dunia pendidikan kata Edy Sunaryo akan mengalami bencana yang lebih dasyat dari penyakit korona.

Bupati Sintang, Jarot Winarno mengungkapkan, Undang-undang pemerintahan yang mengalihkan kewenangan SMA ke provinsi membuat sulitnya koordinasi, terlebih banyak sekolah yang berada dipedalaman dan perbatasan yang kondisinya memprihatinkan.

Bukan  hanya rentang kendali yang jauh, tapi juga menyebabkan daerah tidak bisa berbuat banyak untuk membuat pendidikan Link and Match dengan dunia kerja.

Sejak kewenangan SMA/SMK diambil alih oleh provinsi, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sintang tidak bisa berbuat banyak, termasuk terhadap SMA 2 Ketungau Tengah yang  viral karena sekolahnya menggunakan tenda.

“Kabupaten, hanya bisa melakukan fungsi koordinasi dan pemantauan,” kata Jarot

Bukan hanya sarana dan prasarana sekolah, untuk guru pun kata Jarot wewenang provinsi. Sehingga, daerah tidak punya wewenang lagi sejak diberlakukannya Undang-undang Nomor 23 tahun 2014 tentang pemerintah daerah.(fik)

Komentar

Detiksaga News