Komunitas Mari Melihat Targetkan 20 Relawan Ikuti “Backpacker to Share”

www.detiksaga.com Sintang: Bermula dari keprihatinan pada dunia pendidikan di daerah pedalaman Kalimantan Barat, Komunitas  Mari melihat  Kabupaten Sintang akan menggalang donasi untuk membantu salah satu Sekolah Dasar Negeri (SDN) 45 Dusun Tatai Desa Tanjung Sari, Kecamatan Ketungau Tengah, Kabupaten Sintang,  Kalimantan Barat di taman bungur depan pendopo Bupati Sintang minggu (10/02/2019).

Koordinator kegiatan Jatu Rahmawati mengatakan kegiatan ini mengawali rencana  Backpacer to share ke SD Negeri 15 Dusun Tatai Desa Tanjung Sari dengan mengajak 20 Voulentir  (Relawan) Sintang tanggal   21-24 februari 2019.

“Sekolah ini memiliki siswa  65 orang dan hanya memiliki 6 lokal ruang yang terdiri 3 lokal bangunan terbuat dari kayu dan 3 lokal bangunan beton,” katanya.

Bangunan yang terbuat dari kayu merupakan hasil swadaya masyarakat, diperuntukkan untuk ruang belajar siswa kelas 1, 2 dan 3. Sedangkan 2 bangunan beton yang merupakan bantuan dari dana ADB Kehutanan, diperuntukan untuk kelas siswa 4, 5 dan 6. Dan 1 bangunan beton lainnya yang didirikan sendiri oleh sekolah diperuntukan untuk ruang guru.

“Alasan kami memilih lokasi ini karena SDN 45 Tatai ini berada tidak jauh dari perbatasan negeri, dan termasuk kedalam wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar),” Tambahnya.

Jatu menceritakan kondisi sekolah yang memprihatinkan bila memasuki kawasan SDN 45 Tatai,  disambut dengan 1 buah tiang bendera yang terbuat dari kayu jengger dengan tinggi 4 meter, dibelakang tiang bendera itu terdapat 1 plang nama sekolah dari kayu yang dicat menggunakan cat minyak. Dengan lonceng yang hanya menggunakan gir motor bekas.

“Akibatnya suara pergantian jam kelas tak begitu terdengar apalagi ketika ruang kelas riuh dan hujan turun. Memasuki ruang kelas yang terbuat dari kayu, hati kita semakin terenyuh, mungkin lebih baik gudang kalian dirumah dibanding ruang kelas ,” Urainya.

Lantai sekolah beralaskan tanah, beratapkan anyaman daun yang sudah merenggang mereka duduk dan belajar menggunakan meja dan kursi seadanya dan papan tulis yang rata-rata dalam keadaan rusak. Keadaan semakin parah ketika hujan turun, tak jarang mereka yang duduk di kelas 1, 2 dan 3 harus menghentikan proses belajar mengajar atau bahkan beristirahat dirumah mereka masing-masing karena atap ruang belajar mereka yang sudah tak sebagus dulu, mengakibatkan air masuk kedalam ruang kelas membasahi meja dan kursi serta membuat lantai kelas becek.

Disekolah ini, kata Jatu kurikulum bukanlah sebuah patokan. Mereka sudah terbiasa belajar selaras dengan alam.

“Kami diberi cerita menarik tentang mereka. Disini kurikulum bukanlah sebuah patokan. Mereka sudah terbiasa belajar selaras dengan alam. Bukan seperti muatan lokal pada sekolah di kota, tapi memang konsep “alam raya sekolahku” sudah menjadi keharusan disini. Lalu setiap 2 minggu sekali mereka bergotong-royong membenahi sekolah. Sebuah warisan leluhur yang sudah mulai ditinggalkan di negeri ini,” Tandasnya. (Fik)

 

Komentar

Detiksaga News