Penyebab Stanting Kompleks, Jarot : Inisiasi Menyusui Dini Tekan Kematian

www.detiksaga.com SINTANG – Bupati Sintang, dr. Jarot Winarno, M. Med.Ph membuka acara Forum Pemangku Kepentingan Kabupaten Sintang untuk cegah stanting, di Balai Praja Kantor Bupati Sintang, Selasa (1/8/2017).

“Survey menunjukkan dengan melakukan Inisiasi Menyusui Dini dan ASI Eklusif akan menurunkan 33% angka kematian bayi di bawah umur satu tahun,” terang Jarot yang juga berprofesi sebagai seorang dokter ini.

Menurut Jarot hal tersebut menentukan kualitas hidup masyarakat suatu daerah. Pemerintah akan mewajibkan intitusi dan instansi yang ada di Sintang untuk menyediakan pojok laktasi agar program pemberian ASI ekslusif dapat tercapai.

Angka stanting di Sintang, kata Jarot, menggunakan data pemantauan status gizi. “Angka stanting kita di bawah angka stanting nasional,” ujarnya.

Hasil survei, 1 di antara empat atau tiga bayi mengalami stanting. Diakui Jarot penyebabnya cukup kompleks, mulai dari asupan gizi saat hamil kurang baik, tidak lakukan inisiasi menyusui dini, tidak dilakukan pemberian ASI ekslusif, tidak dilakukan pemberian makana pendamping asi yang baik.

“Kemudian ada yang dikenal dengna 4T, terlalu muda melahirkan, terlalu rapat kelahiran yang terjadi, terlalu tua pada saat melahirkan, terlalu banyak kelahiran dalam satu keluarga,” jelasnya.

Jarot berharap program ini kontinyu, berkelanjutan. Mulai dari remaja ada konseling reproduksi yang baik. Selain itu, ketika hamil dilakukan antanatal care atau pemeriksaan kehamilan minimal 4 kali selama hamil. Melahirkan di fasilitas kesehatan atau sekurangnya dengan petugas kesehatan. Ketika melahirkan, lakukan IMD. Setelah lahir, berikan ASI ekslusif, dan makanan pendamping asi yang baik selama 1000 hari pertama kehidupannya atau samapi anak berusia 2 tahun.

Jarot menambahkan, faktor luar seperti sanitasi yang belum baik di kampung, akses jalan yang kurang baik menuju fasilitas kesehatan juga menjadi penyebab kesulitan untuk mengatasi stanting.

Kepala Bappeda, Kartiyus selaku koordinator penyelenggara kegiatan menyampaikan bahwa kegiatan ini berkenaan dengan upaya mewujudkan sumberdaya manusia yang baik. Hal tersebut berkaitan erat dengan kualitas asupan gizi yang diterima oleh seseorang pada 1000 hari pertama kehidupannya. “Kegiatan ini diselenggarakan oleh BAPPEDA Kabupaten dengan difasilitasi oleh IMA World Health dan instansi terkait,” kata Kartiyus dalam laporannya.

Kegiatan ini berlangsung selama 2 hari, 1-2 Agustus 2017. Peserta kegiatan kurang lebih 50 orang terdiri dari tim penggerak PKK, Dharma wanita persatuan, fasilitator program PKGBM dan GSC tingkat kabupaten dan kecamatan penyelenggara program dan LSM. Pemberi materi dari berbagai instansi terkait, Bappenas, Kemendes, MCA-I, dan IMA perwakilan untuk Indonesia.

Direktur Millenium Challenge Account – Indonesia (MCA-I) menyebutkan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari kampanye gizi nasional. Melalui proyek kesehatan dan Gizi Berbasis masyarakat (PKGBM) untuk mengurangi stanting, MCA-I mendukung kementrian Kesehatan dengan melaksanakan 3 (tiga) program, yaitu: memperluas program PKGBM yang telah ada, generasi sehat cerdas (GSC); meningkatkan pengetahuan para penyelenggara atau penyedia layanan kesehatan; “kegiatannya berupa pelatihan, konseling dna penyediaan peralatan,” terang Iing. Kegiatan yang ketiga, melakukan kampanye gizi nasional (KGN).

Dalam program kampanye gizi nasional MCA-I bekerjasama dengan IMA World Helath. Proses kampanye menggunakan 2 (dua) pendekatan, melalui media massan dan media sosial. “Pendekatan lainnya melalui komunikasi antar pribadi atau lebih kita kenal dengan IPC (interpersonal communication),” terang Iing. “pada IPC kita melakukan berbagai kelas dan konseling hingga pertemuan komunitas hingga di tingkat desa,” tambahnya lagi.

Kegiatan kampanye gizi ini meliputi 3 (tiga) kabupaten di Kalbar dan sejumlah kabupaten di provinsi Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan, Kabupaten Kubu Raya, Sintang dna Kapuas Hulu. Di Sintang, IMA melakukan pendampingan di 5 (lima) kecamatan, Kecamatan Sungai Tebelian, Kayan Hilir, Kelam Permai, Binjai Hulu dan Ketungau Hulu.

Pada kesempatan ini, kegiatan memfokuskan pada isu mencegah stanting. Kondisi ini merupakan kondisi dimana seseorang menderita penurunan tingkat pertumbuhan karena kurang gizi. Stanting terjadi pada masa 1000 hari pertama kehidupan (PKH), masa yang dimulai sejak dalma kandungan hingga usia anak mencapai 2 (dua) tahun. Sebagai tindak lanjut kegiatan ini akan dilaksanakan sosialisasi dan bombingan teknis penyusunan Rencana Aksi Daerah Pangan dan Gizi.

Acara ini dihadiri oleh sejumlah pihak terkait, Dinas Kesehatan, Pelaksana Harian PKBI, Pelkesi, Tim Penggerak PKK Sintang, serta sejumlah pimpinan OPD dilingkungan kedinasan Sintang. (Rilis Humas Pemda Sintang)

 

Komentar

Detiksaga News